Kamis, 15 Agustus 2019

Faktor Pemicu Donald Trump Menang dan Hillary Clinton 'Keok'


Kemenangan Donald Trump dalam pemilu presiden Amerika Serikat (AS) 2016 sangat mengejutkan dunia. Karena selama berbulan-bulan berlangsungnya masa kampanye nyaris seluruh lembaga survei menunjukkan, Hillary akan memimpin perolehan suara dan melenggang ke Gedung Putih.

Banyak yang bertanya-tanya apa yang menjadi faktor kemenangan Trump sehingga sosoknya mampu meraup dukungan rakyat AS. Padahal ia belum teruji, baik sebagai politisi mau pun birokrat.

Sementara fakta berbeda dimiliki Hillary. Ia politisi kawakan yang pernah 'mengecap' kursi pengacara, ibu negara, senat, menteri luar negeri, sebelum akhirnya diberi mandat oleh Partai Demokrat untuk maju sebagai calon presiden.

Bicara soal skandal, keduanya sama-sama memiliki catatan tersendiri. Trump dihantam isu pelecehan seksual tak hanya oleh satu, namun sejumlah perempuan. Ia pun diduga menghindari pembayaran pajak selama bertahun-tahun.

Hillary juga diterpa skandal email. Ia kedapatan menggunakan server email pribadi ketika menjabat sebagai menteri luar negeri. Kasus ini antiklimaks, namun memicu anggapan bahwa sosoknya 'kebal' hukum.

Lantas, apa saja yang menyebabkan Trump berhasil memenangkan pemilu dan menjadi presiden terpilih AS ke-45? Berikut 10 faktor pemicu kemenangan Trump seperti Liputan6.com kutip dari Listverse.com

Trump Cerdas Memanfaatkan Media

Pada Agustus 2015, Listverse pernah menulis sebuah artikel berjudul "10 Reasons Donald Trump May Be A Political Genius". Secara akurat, tulisan tersebut memuat prediksi kemenangan Trump, namun kebanyakan orang mementahkan laporan tersebut.

Dari sekian banyak alasan tulisan itu dimuat, salah satu yang paling menonjol adalah kelihaian Trump memanfaatkan media. Hal tersebut tak mengejutkan mengingat ia memiliki latar belakang yang panjang dalam dunia pertelevisian dan hiburan.

Ia tahu persis harus menyampaikan apa untuk membuat penonton jengkel. Dan secara naluriah ia juga tahu bagaimana cara menarik perhatian mereka. Setiap kali lawannya mulai mendominasi pemberitaan, ia akan melemparkan granat retoris, membuat kamera kembali mengarah kepada dirinya.

Trump memahami dengan baik sebuah pepatah lama, "bahwa tak ada publisitas yang buruk". Dia tahu bahkan ketika para pengamat muncul di TV mengecam kebijakannya, namun para penonton akan setia mendengarkan retorika-retorikanya.

Memang faktanya, saat ini kebanyakan orang lebih mudah mengingat bahkan menjelaskan kebijakan Trump dibanding Hillary. Nyaris semua media menginginkan Trump 'jatuh', namun tanpa mereka sadari mereka telah membentuk Trump menjadi orang paling berkuasa di muka bumi.

Kejutan dari FBI

Berbagai jajak pendapat memenangkan Hillary dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan pada pertengahan Oktober ia memimpin 12 poin di atas Trump. Jika pilpres dilangsung pada saat itu juga bukan tidak mungkin Hillary yang akan dinobatkan menjadi presiden ke45 AS.

Namun kondisi berubah seketika setelah Direktur FBI, James Comey mengirimkan surat kepada Kongres pada 28 Oktober. Ia mengatakan akan membuka kembali investigasi terkait skandal email Hillary yang sebelum sempat ditutup. Dan mendadak 'bom' meledak.

Dukungan terhadap Hillary menurun. Meski belakangan Comey menegaskan, pihaknya 'membersihkan' nama Hillary dari skandal email tersebut, namun hal tersebut tak banyak membantu. Ketika pemungutan suara dimulai bahkan namanya lekat dengan satu kata, kriminal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Liverpool Dibantai Watford, Berikut Deretan Angkanya

Liverpooltidak berdaya di markas Watford, Vicarage Road, pada laga pekan ke-28 Liga Inggris, Sabtu (29/2/2020). Tampil dengan skuat terba...